Kegiatan Kesiswaan bagian dari Character Building

Kegiatan Kesiswaan, Bagian Character Building

(Dikdas): Kegiatan kesiswaan merupakan salah satu unsur terpenting dalam membangun karakter siswa. Demikian butir utama paparan Ir. Indra Djati Sidi, MSc, Ph.D, dari Institut Teknologi Bandung dalam Workshop Guru Pendamping Olimpiade Sains Nasional tingkat SMP di Hotel Aston, Manado, Sulawesi Utara, Senin kemarin (18/07).

“Tiga per empat dari unsur terpenting pendidikan ada pada kegiatan kesiswaan, untuk membentuk karakter, kompetensi, profesionalitas, dan patriotisme. Jadi jangan anggap enteng kesiswaan itu,” kata mantan Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional ini.

Indra Djati mengatakan, dunia pendidikan di Indonesia ibarat Brontosaurus, yang besar sekali karena banyak masalah sehingga lambat berjalan. Karena itu, Indra Djati menyarankan agar para guru tidak selalu menunggu. Namun proaktif mengembangkan kegiatan.

“Apa dasar-dasar yang kita pakai? Pertama, kita semua harus mengerti the theory of multiple intellect yang harus dikembangkan. Bahwa manusia itu inteligensianya banyak, dari matematika sampai spiritual. Ini semua bisa kita kembangkan,” tambah Indra Djati.

Kedua, tambah Indra Djati, guru perlu mengembangkan prinsip Lihat, Dengar, Katakan dan Kerjakan dalam kegiatan kesiswaan. Karena orang belajar itu melihat, mendengar, mengatakan dan mengerjakan. Sehingga pola pembelajaran sekarang, baik di kegiatan kesiswaan maupun kegiatan akademik, menggunakan multimedia, tugas, dan seterusnya, agar prinsip itu bisa diterapkan.

Dalam paparannya, Indra Djati mengambil contoh pasukan antiteror Inggris, yaitu SAS. Pasukan ini berisi orang-orang dengan gelar Ph.D, master, sarjana, ahli bom, ahli bela diri, dan lainnya. Penampilannya biasa, tapi otaknya luar biasa. Dalam SAS, ada 3 moto yang perlu dikembangkan di tiap kegiatan kesiswaan dan juga akademik. Pertama, gembira. Karena kegembiraan adalah energi. Bila gembira, maka enak bekerja. Kedua, rendah hati. Karena orang yang rendah hati, mau mengenal dan mau belajar. Ketiga, selalu berpikir dan berpikir.

“Jadi kegiatan kesiswaan itu mengajari orang untuk never quit! Dan contoh untuk never quit yang pertama-tama haruslah gurunya. Jangan sampai gurunya mengeluh saja di depan muridnya. Jadi harus selalu antusias untuk mencari solusi. Itulah yang mengajarkan suatu bangsa yang optimis,” pungkas Indra Djati.

Ketiga, menguasai learning paradigm. Menurut Indra Djati, aspek mengetahui, mengerjakan, dan bekerjasama akan menjadi jati diri bila tertata dalam rules yang akan digunakan.

Selanjutnya, kegiatan untuk mengaktualisasikan ketiga aspek di atas adalah olahraga dan organisasi.

“Simulasi kehidupan ada semua di olahraga. Olahraga membentuk risk taker dalam beladiri, membentuk disiplin dalam atletik, bagaimana berpikir strategi dan bekerjasama, serta berpikir cepat dan sportif. Semua itu ada di olahraga. Dan yang penting lagi, warisan terbesar dari olahraga adalah persahabatan. Jadi kalau di PSSI ada pertengkaran, itu karena mereka tidak menghayati olahraga,” tegas Indra Djati.

Dalam kegiatan organisasi, Indra Djati menekankan agar OSIS terus dikembangkan, supaya siswa bisa belajar memimpin, bekerjasama, mengambil keputusan dan membangun karakter.

“Hambatan kita sebenarnya hanyalah kemauan. Orang yang tidak mau alasannya banyak. Nggak ada waktu, nggak ada duit, kepepet, dan segala macam. Itu orang-orang yang tidak punya kemauan. Tapi kalau kita mau, kita akan temukan jalannya,” pungkas alumni University of Illinois, USA., ini.* [Adib Minnanurrachim]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: